LAMONGAN, FaktualNews.co-Puasa Ramadan memasuki pekan ketiga. Namun kondisi Pasar Baru Kabupaten Lamongan tampaknya jauh dari harapan.

Geliat pembeli yang biasanya terlihat ramai menjelang Lebaran, kali ini tidak tampak di lorong-lorong pasar dikenal masyarakat setempat dengan sebutan PasarTingkat. Bahkan, sebagian kios di lantai dua pasar tersebut terpaksa tutup.

Menurut Wakil UPT Pasar Tingkat, Edi Setiawan, sepinya kunjungan pembeli pada tahun ini dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satu yang paling dominan adalah persaingan ketat dengan penjualan barang secara daring yang semakin berkembang pesat.

“Banyak pedagang yang kesulitan bersaing dengan harga lebih murah dan produk yang lebih baru yang ditawarkan melalui platform online,” ujar Edi, Minggu (16/3/2025).

Tak hanya itu, Edi juga menyebutkan bahwa sejumlah pedagang memilih untuk memindahkan usahanya ke ruko-ruko yang tersebar di berbagai lokasi di Lamongan. Keputusan ini semakin memperburuk kondisi pasar tradisional, yang kini kian kehilangan daya tarik bagi para pembeli.

Sebagai upaya untuk mengatasi penurunan kunjungan, pengelola pasar telah menjalin kerja sama dengan pedagang untuk memanfaatkan potensi pasar online Lamongan (POL). Namun, upaya ini masih menghadapi hambatan serius, seperti masalah harga dan kualitas produk yang tidak bisa bersaing dengan barang yang dijual melalui sosial media dan e-commerce.

Selain itu, pengelola pasar juga berusaha memberikan arahan dan surat motivasi kepada pedagang yang menutup kiosnya, dengan harapan mereka akan kembali membuka dan berjualan di pasar tradisional.

Namun, dampak dari kebijakan ini masih minim dan belum mampu mengembalikan semangat berjualan para pedagang.

Lebih lanjut, pihak pengelola pasar sempat mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali program bazar Ramadan yang sempat sukses pada tahun 2015 hingga 2017.

Sayangnya, program tersebut terhenti karena adanya larangan dari pemerintah, yang semakin memperburuk keadaan pasar tradisional.

Meskipun demikian, pengelola pasar tetap berharap agar pasar tradisional dapat bangkit dan berkembang meski di tengah tantangan besar dari perdagangan online.

Mereka berharap pasar ini dapat kembali menjadi pilihan utama masyarakat Lamongan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan bahan primer mereka.

“Kami berharap masyarakat bisa kembali mengunjungi pasar tradisional seperti dulu,” ujar Edi. Namun, melihat kondisi saat ini, harapan tersebut sepertinya masih jauh dari kenyataan.