JOMBANG, FaktualNews.co-Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai membahas persiapan pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama, meskipun hingga kini belum menetapkan jadwal maupun lokasi kegiatan tersebut.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa pembicaraan mengenai muktamar masih berada pada fase awal. Terutama dalam upaya menyatukan pandangan seluruh unsur NU sebagai bagian dari proses islah dan penguatan organisasi.

Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya saat menghadiri acara Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU di Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Minggu (4/1/2026) malam.

“Persiapan memang sudah mulai dibicarakan sejak beberapa waktu lalu, tetapi soal waktu dan tempat pelaksanaan masih belum diputuskan. Semua harus melalui musyawarah,” ujar Gus Yahya, Senin (5/1/2026).

Ia mengungkapkan bahwa antusiasme daerah untuk menjadi tuan rumah Muktamar NU cukup besar. Beberapa wilayah telah menyatakan kesiapan, di antaranya Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, serta Jawa Timur.

Selain itu, sejumlah pesantren besar juga mengajukan diri sebagai lokasi penyelenggaraan.

“Peminatnya banyak, termasuk dari Jawa Timur. Bahkan pesantren seperti Lirboyo dan Ploso juga berharap dapat menjadi tempat pelaksanaan muktamar,” katanya.

Menanggapi wacana percepatan muktamar yang sempat mencuat dalam proses islah di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Gus Yahya menegaskan bahwa seluruh langkah harus ditempuh melalui dialog dan kesepakatan bersama.

“Semua harus dibicarakan dalam forum musyawarah agar tidak menimbulkan perbedaan baru. Muktamar adalah agenda penting bagi NU,” tegasnya.

Menurut Gus Yahya, Muktamar NU bukan sekadar kegiatan rutin organisasi, melainkan momentum strategis untuk memperkuat soliditas dan persatuan di tengah dinamika internal NU yang sangat besar.

“NU memiliki warga yang sangat banyak dan beragam. Perbedaan pandangan itu wajar, dan muktamar menjadi ruang untuk menyatukan kembali,” jelasnya.

Terkait isu penentuan waktu muktamar yang sempat dikaitkan dengan agenda nasional seperti musim haji, Gus Yahya menyebut keputusan akhir sepenuhnya bergantung pada hasil musyawarah ke depan.

“Kapan dilaksanakan akan ditentukan bersama. Harapannya semua pihak bisa sepakat sehingga muktamar dapat segera digelar,” pungkasnya.

Sebelumnya, pertemuan antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar bersama jajaran Syuriah PBNU dan para Mustasyar, termasuk Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, telah berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Kamis (25/12/2025).

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bersama yang menandai tercapainya islah atau perdamaian antar pihak yang sebelumnya berbeda pandangan.

Juru Bicara Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdul Mu’id Shohib, mengatakan bahwa pertemuan berjalan dalam suasana penuh kekeluargaan dan menegaskan komitmen seluruh pihak untuk menjaga persatuan NU.

“Alhamdulillah, pertemuan menghasilkan kesepakatan bersama yang disetujui semua pihak,” ujarnya.

Salah satu keputusan penting yang dihasilkan adalah kesepakatan untuk menyelenggarakan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dalam waktu secepat mungkin.

Pelaksanaan muktamar sepenuhnya diserahkan kepada PBNU di bawah kewenangan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.

“Muktamar ke-35 NU akan dilaksanakan sesegera mungkin demi keberlangsungan organisasi,” tutup Gus Mu’id.