Inovatif, Mahasiswa KKN UTM Sulap Daun Kelor Jadi Pupuk Organik Cair di Sumenep
SUMENEP, FaktualNews.co – Kenaikan harga pupuk kimia mendorong lahirnya berbagai inovasi di sektor pertanian. Salah satunya dilakukan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 41 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Tahun 2026 yang mengembangkan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar daun kelor (Moringa oleifera) sebagai alternatif pupuk yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
Inovasi tersebut diterapkan di Desa Gingging, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep. Daun kelor yang selama ini belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik kini diolah menjadi POC untuk membantu meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya di lahan kering Madura.
Berdasarkan hasil pengujian dan penerapan di lapangan, ekstrak daun kelor mengandung berbagai senyawa bioaktif alami, seperti zeatin, sitokinin, dan asam amino yang berfungsi sebagai biostimulan. Kandungan tersebut diketahui mampu merangsang pertumbuhan akar, batang, serta tunas baru sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan tanaman secara optimal.
Salah seorang mahasiswa Program Studi Agroteknologi UTM yang tergabung dalam KKN Kelompok 41, Lala, menjelaskan bahwa proses pembuatan POC daun kelor relatif sederhana sehingga dapat dipraktikkan langsung oleh masyarakat.
“Pupuk organik cair daun kelor sangat mudah dibuat dan biaya pembuatannya cukup terjangkau. Daun kelor yang sudah dihaluskan dicampur dengan air aquadest yang memiliki pH netral, kemudian ditambahkan molase dari tetes tebu atau bisa diganti gula merah, serta EM4 sebagai bahan fermentasi,” jelas Lala,
Rabu (8/7/2026).
Ia menerangkan, seluruh bahan tersebut kemudian difermentasi di dalam wadah yang tertutup rapat selama satu hingga dua minggu. Selama proses fermentasi berlangsung, wadah perlu dibuka setiap dua hari sekali untuk mengeluarkan gas yang terbentuk.
Koordinator Desa Gingging KKN 41 UTM sekaligus praktikan pembuatan POC, Dana, menambahkan bahwa keberhasilan proses fermentasi dapat dikenali dari aroma yang dihasilkan.
“Setelah fermentasi selesai, POC yang berhasil akan mengeluarkan aroma seperti tape. Namun, apabila proses fermentasi gagal, baunya akan menyerupai bau sampah,” ungkap Dana.
Usai difermentasi, cairan POC disaring sebelum diaplikasikan ke tanaman melalui metode penyemprotan ataupun pengocoran dengan dosis pengenceran air yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
Melalui inovasi ini, mahasiswa KKN 41 UTM berharap petani dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang harganya terus meningkat. Selain mampu menekan biaya produksi, pemanfaatan daun kelor sebagai pupuk organik cair juga mendukung penerapan pertanian berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan.
Kepala Desa Gingging, Habibie, menyambut baik inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN UTM tersebut. Menurutnya, pemanfaatan POC daun kelor menjadi solusi di tengah tingginya harga pupuk kimia, terutama pupuk nonsubsidi.
“Semenjak harga pupuk nonsubsidi naik, kami mendukung adanya alternatif baru seperti pupuk organik cair dari daun kelor ini. Selain lebih murah, bahan bakunya juga mudah didapat oleh masyarakat,” ujar Habibie.
Program pembuatan POC daun kelor di Desa Gingging diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat dan petani di berbagai daerah untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam lokal sebagai solusi meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.


