Atasi Banjir, Unisla-Untag dan Kampus Malaysia Kompak Bikin Biopori di Lamongan
LAMONGAN, FaktualNews.co – Menggandeng Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) dan Untag Surabaya, Universitas Islam Lamongan (Unisla) menerjunkan mahasiswanya untuk mengatasi ancaman banjir tahunan di Lamongan melalui program KKN Berdampak. Lewat kolaborasi lintas negara ini, para mahasiswa memelopori pembuatan lubang resapan biopori langsung di pekarangan warga Desa Keben, Kecamatan Turi.
Inisiatif tersebut bukan hanya menjadi kegiatan pengabdian rutin, namun dirancang sebagai laboratorium riset lapangan yang aplikatif. Sebanyak 17 desa di Kecamatan Turi disasar untuk mengedukasi warga, khususnya ibu rumah tangga, tentang pentingnya biopori dalam menekan genangan air sekaligus mengelola sampah organik.
Rektor Unisla, Abdul Ghofur, menyampaikan bahwa kerja sama antar kampus ini bermuara pada solusi nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat serta dikembangkan menjadi riset ilmiah jangka panjang.
”Ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah disampaikan saat penandatanganan MoU di kampus. Muaranya nanti bisa menjadi riset karena daerah ini setiap tahun mengalami banjir. Harapannya, contoh yang sudah dibekalkan kepada mahasiswa KKN bisa ditindaklanjuti di lokasi pengabdian,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).
Program kolaboratif ini turut menyita perhatian akademisi luar negeri. Dekan Pusat Pengajian Siswazah UTHM, Prof. Zaki Bin Noh, mengaku terkesan dengan konsep KKN yang langsung menyambungkan dunia kampus dengan problem riil di masyarakat.
”Ini kali pertama saya melihat usaha universiti kepada komuniti melalui program KKN seperti ini. Bagi saya, ini sesuatu yang sangat menarik dan boleh diaplikasikan di UTHM untuk program KKN di sana,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Tim Litbang Unisla, Nur Azizah Afandi, menjelaskan bahwa edukasi ini menyasar 17 desa sebagai titik sampel utama. Ia optimistis gerakan sederhana ini mampu memberikan dampak ekologis yang besar jika dilakukan secara konsisten.
”Ada 17 desa yang menjadi sampel kami di Kecamatan Turi. Di masing-masing desa, mahasiswa akan memberikan sosialisasi mengenai cara pemasangan, fungsi, dan manfaat biopori kepada masyarakat,” ujar Nur Azizah.
Sementara itu, dukungan penuh juga datang dari jajaran pimpinan Untag Surabaya. Wakil Rektor II Untag, Supangat, menilai sinergi lintas institusi ini sangat penting untuk membekali mahasiswa dalam menjawab tantangan global berbasis persoalan lokal.
”Kolaborasi yang ada di Untag kami coba kembangkan bersama Unisla. Mulai dari kerja sama internasional hingga community internasional seperti ini sudah berjalan, sehingga kami membawa pengalaman tersebut kepada teman-teman di Unisla,” pungkasnya.


