Susu MBG Hilang Dua Pekan, Sekolah Pertanyakan Dasar Penghentian
JOMBANG,FaktualNews.co– Sejumlah sekolah penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendapat suplai dari SPPG Yayasan Ma’hadul Muta’allimin, Desa Puton, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, mempertanyakan penghentian sementara pemberian susu kepada siswa.
Informasi penghentian tersebut diketahui sekolah melalui pesan WhatsApp yang disebut berasal dari hasil Zoom Meeting dengan Badan Gizi Nasional (BGN).
Dalam pesan yang beredar tertulis:
“Pengumuman kepada semua PM, dari hasil Zoom Meeting BGN pemberian susu kemasan dihentikan dulu sampai ada keputusan selanjutnya. Mohon maaf dan terima kasih atas perhatiannya.”
Namun hingga Jumat (24/7/2026), pihak sekolah mengaku belum menerima surat keputusan maupun pemberitahuan resmi yang menjadi dasar penghentian distribusi susu tersebut.
Salah satu Penanggung Jawab (PIC) MBG di salah satu sekolah penerima manfaat di Kecamatan Diwek yang meminta namanya tidak dipublikasikan mengatakan, pihak sekolah mengalami kesulitan memberikan penjelasan kepada siswa karena tidak memiliki dokumen resmi terkait kebijakan tersebut.
“Yang kami terima hanya pemberitahuan lewat WhatsApp yang menyebut hasil Zoom Meeting BGN. Ketika anak-anak bertanya kenapa susunya sudah tidak ada, kami juga bingung menjawabnya. Kalau memang ada kebijakan baru, kami berharap ada surat resmi, SK, atau pemberitahuan tertulis,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, sejak awal semester baru atau sekitar dua pekan terakhir, susu yang sebelumnya rutin dibagikan setiap Kamis tidak lagi diterima siswa.
Ia menilai, tanpa adanya dasar administrasi yang jelas, sekolah berada dalam posisi sulit ketika harus menjelaskan perubahan kebijakan kepada siswa maupun orang tua.
“Anak-anak sekarang kritis. Kalau kami menyampaikan alasan penghentian susu, mereka bisa bertanya, ‘Suratnya mana, Bu?’ Sementara kami memang belum pernah menerima surat resmi,” katanya.
Selain persoalan penghentian susu, pihak sekolah juga menyampaikan evaluasi terhadap menu MBG yang selama ini disuplai oleh SPPG tersebut.
Menurut narasumber, selama kurang lebih dua pekan menu yang diterima siswa didominasi lauk ayam dan telur sehingga sebagian siswa mulai merasa bosan.
“Setiap hari ayam, telur, ayam, telur. Sayurnya juga hampir sama terus. Anak-anak banyak yang mengeluh karena menunya monoton,” ungkapnya.
Akibatnya, sebagian siswa memilih tidak menghabiskan makanan yang diberikan atau hanya mengonsumsi buah yang tersedia.
“Kalau hari biasa mungkin sekitar separuh makanan tidak habis. Bahkan ada anak yang bilang makanannya tidak ada rasanya,” ujarnya.
Keluhan juga muncul ketika pada salah satu distribusi menu, tumis sayur yang diterima sekolah pada Selasa (21/7/2026) diduga sudah tidak layak konsumsi.
Menurutnya, saat makanan dibuka sekitar pukul 09.00 WIB, tercium aroma tidak sedap sehingga pihak sekolah memutuskan menghentikan pembagian makanan kepada siswa.
“Kami langsung melarang anak-anak memakannya karena baunya sudah menyengat dan sayurnya terlihat tidak layak konsumsi,” katanya.
Ia menyebut seluruh makanan pada hari itu akhirnya tidak dibagikan kepada siswa demi menghindari risiko gangguan kesehatan.
Pihak sekolah mengaku telah menyampaikan keluhan kepada pengelola SPPG, namun hingga kini belum mendapat penjelasan maupun permintaan maaf secara terbuka.
Meski demikian, narasumber mengatakan pada distribusi terbaru mulai terlihat adanya perubahan menu dibanding sebelumnya.
“Alhamdulillah sudah ada perubahan. Tidak seperti sebelumnya,” ujarnya saat dikonfirmasi ulang pada Jumat (24/7/2026).
Ia berharap evaluasi terhadap kualitas makanan, variasi menu, serta komunikasi antara SPPG dan pihak sekolah terus diperbaiki agar pelaksanaan Program MBG dapat berjalan maksimal.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Hakul, Kepala SPPG Yayasan Ma’hadul Muta’allimin, telah dilakukan melalui sambungan telepon maupun dengan mendatangi langsung lokasi SPPG di Desa Puton, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.
Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan keterangan.
Saat didatangi, salah seorang petugas di lokasi menyampaikan bahwa Hakul sedang mengikuti rapat melalui Zoom bersama BGN sehingga belum dapat ditemui.
“Maaf Pak Hakul masih rapat Zoom dengan BGN, belum bisa ditemui. Mungkin besok bisa,” ujar petugas tersebut. (KabarJombaJombang.com)


