Usung Tema Budaya Adat Nusantara, Pawai Harjakasi Situbondo Sukses Sedot Antusiasme Warga
SITUBONDO, FaktualNews.co – Pemerintah Kabupaten Situbondo menggelar pawai budaya bertema Budaya Adat Nusantara untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-208 sekaligus HUT Kemerdekaan RI ke-81 tahun 2026, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang berpusat di Alun-Alun Kota Situbondo ini dilepas langsung oleh Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo, Wakil Bupati Ulfiyah, dan jajaran Forkopimda Situbondo. Seluruh peserta melakukan parade dan menyudahi rute di Taman Makam Pahlawan Situbondo.
Pantauan di lapangan menunjukkan antusiasme tinggi dari 17 kecamatan di Kabupaten Situbondo. Didampingi sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan tiga peserta kehormatan, mereka tampil memukau dengan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.
Penampilan warna-warni nusantara ini, sukses mendapat aplaus meriah dari ribuan penonton, yang berjejer dan memadati sepanjang rute, yang dilewati para peserta pawai budaya adat nusantara.
“Meski terik matahari sangat menyengat, saya dan warga lain tetap bertahan di pinggir jalan. Kami sangat antusias melihat pawai yang menampilkan keberagaman pakaian adat dari seluruh Indonesia ini,” ujar Nita, salah seorang warga Kota Situbondo.
Sementara itu, Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menjelaskan jika pemilihan tema Budaya Adat Nusantara tahun ini merupakan langkah strategis untuk mempertegas identitas daerah sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Pria yang akrab disapa Mas Rio ini mengungkapkan bahwa Situbondo merupakan daerah pendalungan wilayah bercorak Jawa, namun mayoritas masyarakatnya bersuku Madura. Karakteristik unik ini membuat pencarian jati diri daerah seolah tidak pernah usai lewat berbagai seminar dan diskusi.
“Di tengah situasi itu, kami memutuskan Situbondo harus ‘naik kelas’. Dimensi naik kelas ini artinya kita harus meng-Indonesia dan menusantara. Ketimbang setiap pergantian kepemimpinan selalu berganti selera pakaian adat atau nyanyian, lebih baik kita melebur menjadi Indonesia saja. Kelas itulah yang sedang kita tapaki sekarang,” tegas Mas Rio.
Selain penegasan identitas, karnaval ini dirancang untuk memberi dampak ekonomi langsung bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sektor seni tata rias (MUA), pelaku kesenian, hingga komunitas kreatif mendapatkan panggung terbuka, untuk menampilkan karya terbaik sekaligus membuka peluang pasar seni lokal ke depan.
“Bahkan, dampak perputaran ekonomi ini dirasakan langsung oleh masyarakat lokal,”beber Mas Rio.
Mas Rio menceritakan, saking tingginya antusiasme warga, atribut dan pakaian adat habis diburu publik. Bahkan, ia sendiri sempat kehabisan saat hendak menyewa pakaian adat Madura untuk rangkaian acara.
“Artinya ekonomi bergerak nyata. Tidak hanya persewaan baju, pedagang kaki lima dan sektor lainnya juga ikut merasakan keuntungan, belum lagi dengan kedatangan pengunjung dari luar kota. Secara kontinu, ini akan menjadi komitmen bersama untuk dilaksanakan setiap tahun,” tambahnya.
Di sisi lain, perayaan ini menjadi sarana recalling memories atau membangkitkan memori kolektif masa kecil masyarakat akan kemeriahan pawai baju adat. “Melalui nostalgia ini, pemerintah daerah berharap dapat menanamkan rasa cinta tanah air yang kuat kepada generasi muda,” pungkasnya.





