Di Tengah Gempuran Layar Digital, Proyektor Film Jadul 35 Mm Kembali Berputar di Jombang
JOMBANG, FaktualNews.co – Ketika hiburan kini bisa diakses hanya melalui layar ponsel, televisi pintar, maupun layanan streaming, suara mesin proyektor film 35 milimeter justru kembali terdengar di sejumlah desa di Jombang.
Memasuki momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, perangkat pemutar film yang tergolong teknologi lawas itu kembali menjadi salah satu pilihan hiburan warga. Di baliknya, ada Slamet Pujiono (43), warga Dusun Krenggan, Desa Kauman, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, yang masih setia merawat sekaligus menyewakan proyektor film jadul produksi sekitar tahun 1980.
Bagi Slamet, keberadaan proyektor tersebut bukan sekadar alat untuk mencari penghasilan. Ia justru berupaya mempertahankan sebuah bentuk hiburan yang pernah begitu akrab dengan kehidupan masyarakat, jauh sebelum televisi, telepon pintar, hingga layanan hiburan digital hadir seperti sekarang.
Permintaan penyewaan proyektor dan pemutaran film klasik biasanya meningkat saat musim perayaan kemerdekaan maupun hajatan warga. Dalam satu bulan, Slamet bahkan bisa melayani hingga empat lokasi penyewaan.
“Pengennya hiburan ini tetap dilestarikan. Dulu sebelum ada TV dan HP, hiburan seperti ini yang dinanti warga. Makanya saya unggah lagi di Facebook supaya orang-orang yang seumuran saya tahu kalau tontonan ini masih ada,” ujar Slamet saat ditemui di kediamannya, Jumat (7/8/2026).
Peralatan yang digunakan Slamet merupakan proyektor film 35 milimeter bermerek Xenon 104, yang diproduksi sekitar tahun 1980. Mesin tersebut telah berada di tangannya selama kurang lebih empat tahun.
Slamet membeli proyektor bekas itu dari seorang temannya yang sudah tidak lagi menggunakannya. Untuk mendapatkannya, ia mengeluarkan uang sekitar Rp1,2 juta.
Tidak berhenti pada mesin pemutar, Slamet juga mengoleksi sekitar 20 judul film dalam format seluloid. Koleksinya terdiri dari film-film lama hingga beberapa judul yang relatif lebih baru.
Harga satu gulungan film yang dimilikinya berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp700 ribu. Jika ada warga yang meminta judul film tertentu sementara tidak tersedia dalam koleksinya, Slamet biasanya menyewa film tersebut dari kolektor atau penyedia film di wilayah Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.
Teknologi pemutaran film yang digunakan Slamet memang berbeda jauh dengan perangkat digital saat ini. Proyektor tersebut masih mengandalkan cahaya lampu berdaya tinggi yang menyorot lembaran film seluloid, layaknya klise foto, untuk kemudian menghasilkan gambar pada layar.
Meski berusia puluhan tahun dan menggunakan teknologi analog, Slamet menilai kualitas gambar yang dihasilkan masih cukup baik, terutama ketika digunakan untuk pemutaran film di ruang terbuka.
“Kalau proyektor ini dipakai sampai jarak sekitar 20 meter gambarnya masih bening. Kalau LCD proyektor digital, biasanya sekitar 10 meter sudah mulai buram,” katanya.
Keunikan itulah yang menurut Slamet membuat proyektor film 35 mm masih memiliki peminat. Bagi sebagian warga, menonton film dengan mesin lawas bukan sekadar menikmati cerita di layar, tetapi juga menghadirkan kembali suasana menonton bersama seperti yang pernah populer di kampung-kampung.
Momentum Agustus tahun ini menjadi salah satu periode tersibuk bagi usaha penyewaan miliknya. Selain berbagai kegiatan untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI, hajatan warga juga ikut meningkatkan permintaan.
“Agustus ini naik sekitar 70 persen dibanding biasanya. Dalam satu bulan bisa empat lokasi penyewaan,” ungkapnya.
Mayoritas penyewa berasal dari kalangan masyarakat umum. Mereka biasanya ingin menghadirkan hiburan yang berbeda dalam berbagai kegiatan, mulai dari acara kampung, malam tirakatan, hingga hajatan keluarga.
Untuk wilayah Kabupaten Jombang, Slamet mematok tarif penyewaan antara Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Biaya tersebut sudah mencakup perangkat sistem suara, durasi pemutaran sekitar lima jam, serta tiga judul film.
Sementara untuk penyewaan ke luar daerah, tarifnya berada di kisaran Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta. Besaran biaya tersebut menyesuaikan dengan jarak dan kebutuhan transportasi.
Di balik keseruan menghadirkan hiburan lawas tersebut, Slamet juga harus menghadapi tantangan dalam merawat perangkat yang usianya sudah puluhan tahun.
Perawatan mesin dilakukan secara sederhana. Ia secara rutin mengoleskan oli pada bagian roda-roda gigi agar mekanisme mesin tetap bergerak dengan lancar.
Namun, persoalan terbesar justru terletak pada ketersediaan suku cadang. Seiring semakin jarangnya penggunaan proyektor jenis tersebut, sejumlah komponen juga semakin sulit ditemukan. Salah satunya adalah lampu proyektor.
Meski demikian, keterbatasan suku cadang dan usia mesin yang sudah tua tidak membuat Slamet menyerah. Ia tetap berusaha menjaga proyektor tersebut agar bisa terus digunakan.
Baginya, setiap kali gulungan film seluloid mulai berputar, suara mesin terdengar, dan layar putih kembali dipenuhi gambar bergerak, yang hadir bukan sekadar sebuah tontonan.
Ada kenangan tentang masa ketika hiburan tidak harus berasal dari layar pribadi. Ada suasana ketika warga berkumpul, duduk bersama, dan menikmati satu layar yang sama.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, Slamet memilih menjaga kenangan itu tetap hidup melalui sebuah mesin tua yang masih mampu membuat layar putih di tengah kampung kembali menyala. (KabarJombang.com)





