TULUNGAGUNG, FaktualNews.co – Memasuki musim kemarau, sedikitnya 11 hektare lahan tanaman padi di Kabupaten Tulungagung dilaporkan mengalami kekeringan. Meski demikian, kondisi tersebut belum berdampak pada gagal panen atau puso.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung, Suyanto, mengatakan laporan pertama terkait kekeringan diterima pada Juni 2026. Saat itu, lahan terdampak berada di Kecamatan Pakel dengan total luas mencapai tujuh hektare.

“Kami mulai menerima laporan adanya lahan tanaman padi yang terdampak kekeringan sejak Juni 2026 di Kecamatan Pakel dengan luas sekitar tujuh hektare,” ujar Suyanto, Rabu (29/7/2026).

Ia menjelaskan, lahan yang terdampak di Kecamatan Pakel berada di dua desa, yakni Desa Ngebong seluas dua hektare dan Desa Suwaluh seluas lima hektare. Untuk mencegah kerusakan tanaman semakin meluas, Dispertan segera melakukan penanganan.

Memasuki awal Juli 2026, kekeringan kembali dilaporkan terjadi di Kecamatan Campurdarat. Kali ini, masing-masing dua hektare lahan di Desa Pelem dan Desa Wates terdampak kekurangan pasokan air.

“Di Kecamatan Campurdarat ada empat hektare yang dilaporkan terdampak kekeringan. Jadi total luas lahan yang terdampak mencapai 11 hektare,” ungkapnya.

Suyanto menambahkan, penanganan di Kecamatan Pakel telah berhasil dilakukan melalui program bantuan pompanisasi. Sementara itu, penanganan di Kecamatan Campurdarat masih terus berlangsung.

Selain melakukan penanganan, Dispertan juga memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau, terutama di kawasan pegunungan seperti Kecamatan Tanggunggunung, Pucanglaban, Sendang, dan Pagerwojo.

Menurutnya, petani di wilayah-wilayah tersebut umumnya telah mengantisipasi musim kemarau dengan tidak menanam padi dan beralih ke tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti jagung.

“Petani di wilayah pegunungan biasanya sudah mengantisipasi dengan tidak menanam padi saat musim kemarau dan memilih menanam jagung,” pungkasnya.